Bangau da Café

Komunitas SMAK 1 BPK PENABUR BANDUNG
 
HomeHome  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  Log in  

Share | 
 

 Kisah Sukses 1 : Jennie S.Bev

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
suherman
JuRaGan CaFe
JuRaGan CaFe


Number of posts : 2171
Age : 42
Domisili : Bandung
THN Lulus : 1992
KLS terakhir : 3-2 A-1
Registration date : 2007-04-19

PostSubject: Kisah Sukses 1 : Jennie S.Bev   Tue May 08 2007, 13:34

Nama aslinya adalah Jennie Siat. Lahir di Indonesia sekitar 37 tahun yang lalu. "Bev" di belakang namanya adalah singkatan dari Bevlyadi, suami dan pasangan hidup yang setia mendampinginya hingga kini.

Jennie lahir dan besar di kawasan Menteng Jakarta, kemudian kuliah di Universitas Indonesia mengambil jurusan hukum. Setelah selesai tahun 1994, Jennie mulai aktif menulis di berbagai media di Indonesia, di antaranya di tabloid Kontan dan di koran The Jakarta Post.

Jennie menikah dengan Abang Beni, begitu ia memanggil suaminya, tak lama sebelum Indonesia dilanda krisis moneter. Krisis moneter inilah yang kemudian memicu hasrat mereka berdua untuk merantau ke negeri orang. Jennie dan suaminya memilih Amerika.

Sekitar tahun 1998, Jennie mendapatkan pekerjaan pertamanya di Amerika sebagai legal assistant pada sebuah law firm di San Diego sebelum pindah ke San Fransisco. Awal tahun 2000, Jennie mendapatkan pekerjaan yang ada hubungannya dengan tulis-menulis. Jennie bahkan sempat menjadi managing editor dan country manager di sebuah perusahaan dot com. Tapi tahun 2001, sejalan dengan menurunnya gegap gempita dunia dot com perusahaan itu kemudian bangkrut.

Jennie kemudian berganti profesi menjadi pegawai negeri di negara bagian California. Selama karier barunya itu, Jennie terus berkontemplasi untuk menemukan talentanya. Jennie tetap meneruskan kreatifitas menulisnya.

Dengan kreatifitas menulisnya, hingga kini sudah ada sekitar 1.000 artikel, 60 e-book, dan dua buku best seller telah ditulis oleh Jennie. Semua tulisannya itu menyebar ke seluruh dunia, mulai dari Amerika, Kanada, Inggris, Eropa dan tentu saja sampai ke Indonesia.

Salah satu tulisannya, "Guide to Become a Management Consultant", menjadi salah satu dari 5 tulisan terbaik sekaligus menjadi finalis 2003 EPPIE Award dalam kategori non-fiction how-to. EPPIE adalah sebuah lembaga yang cukup bergengsi dalam soal online publishing di Amerika.

Kejadian itulah yang kemudian membuat seorang Jennie "makin nekat" setelah merasa menemukan jati dirinya sebagai penulis business how to dan motivator. Maka, di awal tahun 2003 Jennie mendirikan perusahaan dot com-nya sendiri, yaitu sebuah perusahaan online publishing yang berspesialiasi memproduksi ebook business-how-tos khusus untuk bidang fashion dan kosmetika.

Perusahaan yang diberi nama StyleCareer.com itu kini dikenal di seluruh Amerika dan bahkan di seluruh dunia, sebagai salah satu penyuplai informasi terbaik di bidang bisnis fashion dan kosmetika. Lebih dari 60 ebooknya laris manis terjual dan dibeli oleh mereka yang menerjuni bisnis dunia gaya ini. Jennie punya target mencapai angka 100 judul pada akhir tahun 2007.

Jennie juga pernah menjadi pembicara seminar di Learning Annex, yang alumninya termasuk juga Robert Kiyosaki, Donald Trump. (Dengan rendah hati Jennie menegaskan bahwa ia hanya kebagian urusan fashion saja dan tidak se-spektakuler mereka itu. Ditambahkannya pula bahwa kelasnya pun kecil hanya terdiri dari 20-30 orang, tidak seperti kuliah umum mereka yang dijejali ratusan bahkan ribuan orang.)

Dari sebuah online publishing bermodal dengkul, StyleCareer.com berkembang menjadi konsultan bisnis fashion. Jennie terus mengembangkan usahanya sampai mampu mendapatkan klien-klien berkelas kakap di daratan Amerika. Misalnya saja, John Casablanca pendiri Elite Modelling Agency yang melahirkan Cindy Crawford, Naomi Campbell, dan Cameron Diaz, atau Laila Ali McLain yang anaknya Muhammad Ali. John Casablanca bahkan sempat menyebut Jennie sebagai "the queen of research".

Berkaitan dengan sukses onlinenya itu, Jennie memberi tips:

1. Berani mencoba dan tidak berputus asa.
2. Kenali pesaing dari segi infrastruktur, produk, proses produksi, dan jalur distribusi.
3. Pelajari pro dan kontra yang ada, jangan tiru sepenuhnya supaya kegagalan tidak terulang.
4. Juallah produk spesifik yang sulit ditemui di dunia online.
5. Gunakan strategi marketing secara online dan offline.

Kini Jennie juga mulai mengembangkan usaha secara offline terkait dengan berbagai produk kecantikan. Selain itu Jennie juga sedang menginkubasi sebuah bisnis di bidang kependidikan dan konsultasi, di bawah bendera Afton Institute dan Afton Consulting. Jennie juga menjadi adjunct professor pada sebuah perguruan tinggi online yang cukup terkenal di sana. Di tambah lagi, bersama suaminya Jennie sedang mengejar gelar doktornya.

Jennie, perempuan berkacamata yang asal Indonesia, telah membuktikan dirinya berhasil sebagai seorang infopreneur dan homepreneur kelas dunia di negeri seberang. Satu atau dua tahun lagi, Jennie berniat pulang kampung ke Indonesia untuk menularkan kesuksesannya.

Di tanya tentang semua fenomena dirinya, Jennie hanya berkata "Saya menulis karena cinta. Saya berbisnis karena kebutuhan hidup. Saya bekerja sosial karena kasih kepada kemanusiaan."

Tentang suksesnya di perantauan itu Jennie mengatakan, "Kalau seorang perantau dari tanah Betawi seperti Saya ini bisa diterima, tentu Anda juga pasti bisa. Kuncinya hanya satu, yaitu mengunakan paradigma internasional dalam menjalankan bisnis online. Jangan berkecil hati hanya karena kita berasal dari Indonesia. Teknologi sama di mana saja dan dunia maya memungkinkan jarak tidak lagi menjadi penghalang. Mari kita mulai sekarang juga."

Sukses seorang Jennie S. Bev bukanlah sukses tanpa kendala. Jennie paham bahwa sebelum sukses harus ada kesulitan. Jennie mengerti bahwa semua kesuksesan itu bisa diraihnya lewat jalan hidup yang keras dan berbatu. Jennie bahkan mengerjakan banyak hal di dalam hidupnya, dengan choosing the hard way.

Seakan memperkuat hukum kesuksesan yang pasti berlakunya ("Success is never ending; failure is never final", "Temporary defeats", dan bahkan "The Law of Babak Belur"), Jennie pun mendemonstrasikannya di dunia mayanya dan sekaligus di dunia nyatanya.

Saat Jennie masih kuliah di Depok, ia lebih memilih naik bis dua atau tiga kali sebelum tiba di kampusnya, ketimbang diantar dengan mobil bersama pak sopir. Kebiasaan untuk take it the hard way ini diteruskannya sampai merantau ke negeri orang.

Jennie dan suaminya berangkat ke Amerika bermodal dengkul. Mereka tiba di "negeri impian" itu dengan masing-masing hanya membawa satu koper dan satu tas jinjing.

Di luar pekerjaan-pekerjaan yang "bersih" di atas, berbagai pekerjaan "kotor" pun pernah dilakukan Jennie dan suaminya dalam petualangan mereka. Di masa-masa awal mereka berdua di tanah rantau, banyak sekali kesulitan dan hal berat yang harus mereka tempuh sebelum mencapai apa yang mereka peroleh kini.

Kemiskinan dan kesulitan hidup adalah hal biasa yang dialami di masa awal perantauan Jennie. Karena belum punya kendaraan, Jennie pernah harus berjam-jam menunggu bis di pinggir jalan, dengan tangan dan kuping yang nyaris beku di musim dingin.

Jennie pernah harus dihadapkan pada pilihan sulit yang jarang bisa kita bayangkan; pilih makan atau naik kendaraan. Tentu saja, demi menyambung hidup Jennie lebih memilih makan dan rela berjalan kaki atau bahkan jogging ke tempat kerja. Itung-itung, sambil menyelam minum air alias berolahraga.

Soal menjadi pekerja kasar dan rendahan di negeri orang bukanlah barang asing bagi seorang Jennie dan suaminya. Kerja sebagai janitor pernah dilakoni Jennie. Membersihkan lantai, menyapu, mengepel, sampai membersihkan yang kotor-kotor pun pernah dilakukannya pula, termasuk membersihkan toilet yang mampet.

Suami Jennie pun tak kurang "seru" pengalamannya. Ia pernah menjadi tukang parkir di terik matahari sampai kulitnya coklat. Ia juga pernah berjualan bunga di toko kecil di trotoar jalan.

Selama menjadi "kere" di sana, Jennie dan suaminya bahkan pernah mengecap antrian di klinik kesehatan gratis, bersama para pengemis dan gelandangan, sebab mereka tak punya asuransi atau uang untuk ke dokter. Bila mengingat hal itu, di kepala Jennie terbayang kembali film Will Smith "Pursuit of Happiness".

Jennie dan suami tercintanya, kini telah memasuki tahap kesuksesan berikutnya: Mampu tertawa bila mengingat semua haru biru itu. Saat mengobrol berdua, atau saat bercengkerama dengan teman dan sahabatnya yang kini adalah para senator dan kaum jetset.

_________________

Hidup itu SULIT, mengapa kita harus membuatnya menjadi lebih SULIT lagi ?
Back to top Go down
View user profile http://suherman.lifeme.net
tjianx
Letnan Kolonel
Letnan Kolonel


Number of posts : 143
Age : 38
Domisili : Bandung
THN Lulus : 1996
KLS terakhir : III-1 A1
Registration date : 2007-05-05

PostSubject: Re: Kisah Sukses 1 : Jennie S.Bev   Sun May 27 2007, 15:29

KISAH SUKSES SOICHIRO HONDA



"Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", Soichiro Honda


Pernakah Anda tahu, sang pendiri "kerajaan" Honda - Soichiro Honda – sebelum sukses diraihnya ia banyak mengalami kegagalan? Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. "Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda," tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever.


Kecintaannya kepada mesin, mungkin 'warisan' dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.


Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang. Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri. Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.


Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.


Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.


Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan

pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. "Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya," ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.


Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali. Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal. Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, "sepeda motor" – cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi "raja" jalanan dunia, termasuk Indonesia.


Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. "Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru. Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin.


5 Resep keberhasilan Honda :

  • Selalu berambisi dan berjiwa muda.
  • Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi.
  • Senangi pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja senyaman mungkin.
  • Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
  • Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.
Back to top Go down
View user profile http://www.tjianx2t.com
 
Kisah Sukses 1 : Jennie S.Bev
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Kisah mistis jenazah Uje sangat mirip kisah syahidnya jenasah Amrozi cs.
» Kisah Nabi Dalam Alkitab (Fitnah Atau Bukan??)
» Kisah Dr OZ dan Asal Mula Yahudi
» Menolak Kisah Pernikahan Dini Aisyah ra, berdasarkan Shahih Bukhari dan Temuan Sejarawan
» kisah murid-murid nabi isa mendakwahkan agama tauhid

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Bangau da Café :: CAFE :: Buku, Cerita, Gambar, dan Kartun-
Jump to: